TANGERANG, Gmanews.id — Proyek pembangunan SPAL u-ditch di Kampung Plonco Seberang RT 03 RW 04, Desa Bonisari, Kecamatan Pakuhaji menjadi perhatian publik setelah ditemukan dugaan pelanggaran standar teknis dan keselamatan kerja pada Minggu (26/04/2026). Pekerjaan yang bersumber dari skema Pekerjaan Langsung (PL) itu dinilai tidak mengikuti prosedur konstruksi sebagaimana mestinya.
Dari hasil pantauan di lokasi, proses pemasangan beton u-ditch dilakukan tanpa menggunakan alas pasir atau mortar sebagai lantai kerja. Padahal, tahapan tersebut merupakan bagian penting dalam menjaga kestabilan struktur saluran.
Diduga Tidak Sesuai RAB, Pekerja Akui Tak Ada Pasir Alas
Ketiadaan lapisan dasar ini memunculkan dugaan adanya kelalaian dalam pelaksanaan pekerjaan, atau kemungkinan tidak dicantumkannya item tersebut dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB).
Salah satu pekerja di lapangan mengakui tidak adanya penggunaan pasir sebagai alas pemasangan.
“Memang gak ada pasirnya,” ujar pekerja saat dikonfirmasi di lokasi.
Aspek K3 Diabaikan, Pekerja Tanpa APD
Selain persoalan teknis, proyek SPAL u-ditch di Bonisari juga dinilai mengabaikan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Sejumlah pekerja terlihat tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti helm proyek dan sepatu keselamatan.
Kondisi tersebut berpotensi membahayakan keselamatan pekerja di tengah aktivitas konstruksi.
“K3 ada, cuma malas makenya karena panas,” ungkap pekerja lainnya.
Kualitas Material Dipertanyakan, U-Ditch Tanpa Cap SNI
Tak hanya itu, penggunaan material juga menjadi sorotan. Beton u-ditch yang digunakan di lokasi tidak tampak memiliki cap Standar Nasional Indonesia (SNI), yang seharusnya menjadi acuan mutu dalam pekerjaan konstruksi.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan terkait kualitas dan ketahanan bangunan yang tengah dikerjakan.
Pelaksana CV Mugi Jaya Putri, Pengawas Belum Beri Tanggapan
Proyek tersebut diketahui dikerjakan oleh CV Mugi Jaya Putri di bawah pengawasan Kecamatan Pakuhaji. Namun hingga berita ini diterbitkan, pihak pengawas belum memberikan klarifikasi atas sejumlah temuan di lapangan.
Minimnya standar teknis dan pengabaian aspek keselamatan dalam proyek SPAL ini berpotensi berdampak pada kualitas infrastruktur serta keselamatan pengguna di masa mendatang. Evaluasi menyeluruh dari pihak terkait dinilai mendesak untuk memastikan pekerjaan sesuai ketentuan.
(Reporter: Muhayar)











Tinggalkan Balasan