LEBAK | Gmanews.id – Dugaan kasus kekerasan terhadap anak kembali menjadi perhatian publik. Seorang bocah perempuan yang masih duduk di bangku sekolah dasar di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten, diduga menjadi korban penganiayaan oleh ibu tirinya.
Informasi ini mencuat setelah beredarnya video yang memperlihatkan kondisi korban saat dimintai keterangan oleh warga. Dalam rekaman tersebut, anak tersebut mengungkapkan pengalaman pahit yang dialaminya dengan nada polos.
Korban mengaku mengalami kekerasan fisik yang menyebabkan luka di tubuhnya. Ia menyebut bagian wajahnya pernah dicakar hingga mengeluarkan darah.
“Ada lah, darah banyak,” ucap korban dalam video yang beredar.
Keterangan Korban dan Dugaan Kekerasan Berulang
Tidak hanya itu, korban juga menyampaikan bahwa tindakan kekerasan lain terjadi saat bulan puasa. Ia mengaku mengalami luka hingga berdarah akibat perlakuan yang diduga dilakukan oleh ibu tirinya.
Selain video, beredar pula foto yang menunjukkan adanya luka kemerahan di bagian dada korban yang diduga akibat kekerasan fisik.
Salah seorang warga Kecamatan Cibeber yang enggan disebutkan identitasnya membenarkan adanya dugaan penganiayaan tersebut. Ia mengaku mendapatkan informasi dari lingkungan sekitar korban.
“Katanya disiram air panas di bagian badan, kalau di muka dicakar. Saat ditanya tetangga, anak itu mengaku,” ujar warga tersebut saat dihubungi, Jumat (17/4/2026).
Kondisi Korban Memprihatinkan
Warga juga menyebut kondisi korban cukup memprihatinkan. Selain diduga mengalami kekerasan, korban disebut sering tidak mendapatkan uang jajan dan harus bergantung pada bantuan teman-temannya di sekolah.
“Uang jajan tidak pernah dikasih, jadi teman-temannya suka iuran untuk membantu,” katanya.
Korban diketahui telah kehilangan ibu kandungnya dan kini tinggal bersama ayah serta ibu tirinya. Situasi tersebut diduga memperburuk kondisi psikologis dan kesehariannya.
Bahkan pada momen Lebaran 2026, korban dan saudaranya disebut sempat ditinggalkan sendirian di rumah oleh orang tuanya.
“Saat Lebaran ditinggal, malam hari menangis. Tetangga tanya, ternyata lapar karena tidak ada beras,” ungkapnya.
Menunggu Klarifikasi Aparat
Diketahui, ayah korban berprofesi sebagai kepala sekolah di salah satu SMP negeri di wilayah Cibeber, sementara ibu tirinya merupakan seorang guru di SMK di kawasan Cikotok.
Hingga berita ini ditayangkan, Gmanews.id masih berupaya melakukan konfirmasi kepada kepolisian setempat. Upaya menghubungi pihak Polsek Cibeber melalui sambungan telepon dan pesan singkat belum mendapatkan tanggapan.
Kasus ini menjadi sorotan publik dan diharapkan mendapat penanganan serius dari pihak berwenang guna memastikan perlindungan terhadap anak serta penegakan hukum yang adil.
Reporter : Sopian Sauri











Tinggalkan Balasan