SERANG | Gmanews.id – Kondisi memprihatinkan dialami Jamhudi (60), warga Kampung Wadas Nenggang, RT 003/001, Desa Sindangsari, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang. Ia bersama anak dan cucunya harus bertahan hidup di rumah yang nyaris roboh dan jauh dari kata layak huni.
Di tengah keterbatasan ekonomi, Jamhudi hidup bersama 12 anggota keluarga dengan penghasilan yang tidak menentu. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, keluarga ini kerap mengalami kesulitan, apalagi untuk memperbaiki rumah yang sudah rusak parah.
“Buat makan saja masih susah, apalagi untuk membangun rumah,” ujar Jamhudi saat ditemui awak media.
Kondisi rumah yang ditempati sudah bertahun-tahun tidak tersentuh perbaikan. Bangunan tersebut tidak memiliki fasilitas dasar seperti kamar tidur yang memadai maupun kamar mandi. Atap dan struktur rumah pun sudah mengalami kerusakan serius dan membahayakan penghuni.
Selain persoalan tempat tinggal, beban ekonomi keluarga semakin berat setelah salah satu anggota keluarga meninggal dunia. Anak Jamhudi kini harus mengurus anaknya seorang diri, sementara cucu tersebut terpaksa putus sekolah karena keterbatasan biaya.
Penghasilan keluarga hanya bergantung pada pekerjaan serabutan. Salah satu sumber pendapatan adalah membantu warga memanen melinjo, itupun jika ada yang membutuhkan tenaga.
“Kalau ada yang minta bantuan panen melinjo baru kami dapat penghasilan,” ungkap anak Jamhudi.
Hingga saat ini, keluarga Jamhudi mengaku belum pernah menerima bantuan sosial seperti BLT, PKH, maupun BPNT. Padahal, kondisi ekonomi mereka tergolong sangat membutuhkan perhatian pemerintah.
Keluarga berharap adanya perhatian dari Pemerintah Desa Sindangsari, Kecamatan Petir, hingga Pemerintah Kabupaten Serang untuk memberikan bantuan, terutama program bedah rumah dan dukungan pendidikan bagi anak-anak.
“Kami berharap pemerintah tidak menutup mata. Kami ingin rumah yang layak dan masa depan yang lebih baik untuk anak cucu kami,” harap Jamhudi.
Kisah ini menjadi potret nyata masih adanya warga yang hidup dalam keterbatasan ekstrem dan membutuhkan intervensi serius dari pemerintah serta pihak terkait.
Reporter: Buhari











Tinggalkan Balasan