Menu

Mode Gelap
Pemdes Sindangheula Prioritaskan Rumah Warga Rusak Akibat Hujan Lebat Masuk Program RTLH Diduga Korupsi Anggaran BUMDes, Program Ayam Petelur Rp151 Juta di Desa Seuat Jaya Jadi Sorotan Dugaan Penyimpangan Dana Desa Cirendeu 2025, Belanja Kain Kafan Rp29,8 Juta Dipertanyakan Paramount Petals Hadirkan Food Court Modern, Peluang Bisnis Kuliner Makin Terbuka DPO Oknum TNI AD di Kendari: Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Anak Picu Sorotan Publik

Kesehatan · 30 Apr 2026 05:16 WIB ·

Sistem Skrining BPJS Disorot: Rakyat Dipersulit, Pasien Puskesmas Mauk Antri Berobat


 Kebijakan BPJS Dinilai Tak Pro Rakyat, Lansia Jadi Korban Sistem Digital Perbesar

Kebijakan BPJS Dinilai Tak Pro Rakyat, Lansia Jadi Korban Sistem Digital

TANGERANG | Gmanews.id  — Lonjakan pasien terjadi di Puskesmas Mauk, Kabupaten Tangerang sejak awal Januari 2026. Antrean panjang terlihat setiap hari akibat kebijakan wajib Skrining Riwayat Kesehatan (SRK) bagi peserta JKN yang ingin berobat.

Kebijakan dari BPJS Kesehatan ini mengharuskan peserta melakukan skrining minimal 1 kali dalam setahun. Jika belum, layanan pengobatan berpotensi tertunda karena menjadi bagian dari prosedur pelayanan.

Pasien Membludak Sejak Pagi Hari

Sejak pagi, ratusan warga sudah memadati area puskesmas. Sebagian besar datang tidak hanya untuk berobat, tetapi juga untuk memenuhi kewajiban skrining kesehatan tahunan.

Petugas kesehatan Puskesmas Mauk menyebutkan jumlah kunjungan meningkat signifikan dibanding hari normal. Dampaknya, waktu tunggu pasien menjadi lebih lama dari biasanya.

Kepala Puskesmas: Warga Belum Paham Sistem Skrining

Kepala Puskesmas Mauk, dr. Alan Sartana, menjelaskan lonjakan antrean juga dipicu belum meratanya pemahaman masyarakat terkait sistem skrining kesehatan BPJS.

“Kami mengharapkan masyarakat bisa menggunakan mesin anjungan antrean untuk mendaftar berobat. Namun banyak yang belum paham mengisi skrining kesehatan BPJS,” ujar dr. Alan Sartana.

Menurutnya, pihak puskesmas kini menerapkan metode pengambilan nomor antrean yang kemudian diarahkan ke loket khusus.

“Pasien yang belum pernah melakukan skrining pasti mengalami kesulitan. Karena itu, petugas membantu mengisi data skrining tersebut agar proses pelayanan tetap berjalan,” tambahnya.

FWJ Indonesia Kritik Kebijakan SRK BPJS

Aris, Sekretaris Wilayah FWJ Indonesia Korwil Tangerang Kabupaten, menilai kebijakan wajib SRK dari BPJS Kesehatan berpotensi menyulitkan masyarakat, khususnya kelompok rentan.

“Puskesmas diperuntukkan bagi masyarakat yang tidak mampu. Banyak lansia dan warga yang tidak memiliki handphone atau kuota internet, sehingga kesulitan melakukan input data skrining,” ujar Aris.

Baca Juga Berita :  Polresta Tangerang Ungkap Kasus Tawuran Pelajar Berujung Maut di Muara Kaliadem, 14 Orang Diamankan

Ia menambahkan, kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan persoalan keadilan layanan publik.

“Ini bisa menjadi bentuk ‘public justice’ karena tidak semua masyarakat memiliki akses yang sama terhadap sistem digital,” tegasnya.

Kurangnya Sosialisasi Picu Penumpukan

Sejumlah pasien mengaku baru mengetahui kewajiban SRK saat datang berobat. Hal ini menyebabkan penumpukan terjadi dalam waktu bersamaan.

Kurangnya sosialisasi menjadi faktor utama meningkatnya antrean di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas.

SRK untuk Deteksi Dini, Layanan Perlu Penyesuaian

Program skrining ini bertujuan untuk deteksi dini risiko penyakit dan meningkatkan kualitas layanan kesehatan peserta JKN.

Namun, dalam implementasi awal 2026, lonjakan peserta skrining membuat fasilitas kesehatan harus beradaptasi dengan cepat.

Puskesmas Optimalkan Layanan dan SDM

Pihak Puskesmas Mauk terus melakukan penyesuaian alur pelayanan dan mengoptimalkan tenaga kesehatan guna mengurai antrean.

Masyarakat diimbau melakukan skrining secara mandiri sebelum berobat agar tidak terjadi penumpukan di fasilitas kesehatan.

Ke depan, peningkatan sosialisasi dan pemerataan akses layanan digital menjadi kunci agar kebijakan ini berjalan efektif tanpa menghambat pelayanan kesehatan masyarakat.

( Reporter: Muhayar)

Artikel ini telah dibaca 54 kali

badge-check

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Puskesmas Pagedangan Dampingi Posyandu Sedap Malam, Tekan Risiko Stunting di Desa Karang Tengah

30 April 2026 - 06:26 WIB

Kegiatan Posyandu Karang Tengah Pagedangan Fokus Pemantauan Bumil dan Balita

Pemerintah Realokasikan 11 Juta Data PBI, Validasi Dipercepat Demi Subsidi Tepat Sasaran

15 April 2026 - 12:56 WIB

Integrasi Data Lintas Lembaga Diperkuat, Pemerintah Targetkan Bantuan JKN Lebih Akurat

Mobile Is Bound To Make An Impact In Your Business

27 Agustus 2021 - 04:59 WIB

5 Health Mistakes That Will Cost You $1m Over The Next 10 Years

26 Agustus 2021 - 21:00 WIB

Believing These 5 Myths About Health Keeps You From Growing

26 Agustus 2021 - 20:54 WIB

Fascinating Health Tactics That Can Help Your Business Grow

26 Agustus 2021 - 20:48 WIB

Trending di Kesehatan