TANGERANG | Gmanews.id — Sejumlah warga Kampung Kramat RT 01/02, Desa Kramat, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, kompak melakukan kerja bakti membersihkan saluran irigasi, Senin (05-10-2026).
Kegiatan tersebut dilakukan masyarakat, khususnya para petani, sebagai bentuk kepedulian dan inisiatif warga menyusul kondisi saluran irigasi yang sebelumnya tertimbun tumpukan tanah dan dipenuhi material serta sampah.
Akibat kondisi tersebut, aliran air menuju lahan persawahan warga terganggu. Para petani mengaku kekurangan pasokan air sehingga sejumlah lahan sawah mengalami kekeringan dan berdampak terhadap hasil panen.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, tumpukan tanah yang menutup saluran irigasi tersebut diduga merupakan dampak dari aktivitas pengurugan di sekitar lokasi yang dilakukan oleh salah satu pengembang.
Kondisi itu kemudian membuat para petani berinisiatif turun langsung membersihkan saluran. Dengan menggunakan peralatan sederhana, warga bersama-sama mengangkat tanah, lumpur, sampah dan material yang menyumbat saluran.
Herman, salah seorang petani setempat, mengatakan kerja bakti tersebut dilakukan sebagai solusi sementara agar aliran air kembali mengairi persawahan warga.
“Kami lakukan ini supaya air bisa kembali mengalir ke sawah. Selama saluran tidak berfungsi, sawah kekurangan air dan hasil panen juga tidak maksimal,” kata Herman.

Gambar Saluran Irigasi Sebelum Kerja Bakti di Laksanakan, Tertutup Material sampah dan Tanah
Menurutnya, dampak kekurangan air cukup terasa bagi para petani. Bahkan, Herman mengaku hasil panen dari lahan yang dikelolanya mengalami penurunan cukup drastis.
“Kalau tiga petak saja, waktu panen paling hanya dapat sekitar tiga karung. Jelas kami merasa rugi karena sawah tidak mendapatkan pasokan air yang cukup,” ungkapnya.
Keluhan serupa disampaikan Marham, petani lainnya. Ia mengatakan sejak saluran irigasi tidak berfungsi dengan baik, kondisi lahan sawah menjadi kekurangan air hingga mengalami kekeringan.
“Sejak air tidak lancar, hasil panen turun. Sawah kekurangan air, kalau kondisi seperti ini terus petani yang paling merasakan kerugiannya,” ujar Marham.
Sementara itu, Iyus, tokoh pemuda setempat yang turut peduli terhadap kondisi para petani, kemudian melakukan konsolidasi bersama warga untuk mencari solusi agar saluran irigasi yang tertimbun tersebut bisa kembali berfungsi.
Setelah dilakukan musyawarah bersama para petani, warga akhirnya sepakat melakukan kerja bakti secara gotong royong dengan membersihkan saluran yang tertutup tanah dan berbagai material.
“Alhamdulillah kini saluran irigasi telah kembali normal. Sebelumnya petani mengeluhkan hasil panen turun, tidak maksimal akibat sawah kering karena tidak ada pasokan air yang memadai,” kata Iyus.
“Melihat kondisi itu, kami kemudian bermusyawarah dengan para petani mencari solusi. Akhirnya kami lakukan giat gotong royong bersama-sama mengangkat tanah yang menutupi saluran irigasi ini,” sambungnya.
Iyus menegaskan kegiatan tersebut murni merupakan inisiatif masyarakat, khususnya para petani yang merasa membutuhkan kembali berfungsinya saluran irigasi untuk menunjang aktivitas pertanian mereka.
Menurutnya, langkah warga tersebut bukan berarti mengabaikan ataupun tidak menghormati keberadaan pemerintah maupun lembaga terkait. Namun, kondisi di lapangan membuat masyarakat memilih bergerak terlebih dahulu agar persoalan aliran air tidak semakin berdampak terhadap lahan dan hasil panen petani.
“Ini murni kepedulian masyarakat terhadap petani. Tidak ada tendensi apa pun. Kami hanya ingin saluran ini kembali berfungsi sehingga sawah warga bisa mendapatkan air. Kalau menunggu terlalu lama, kasihan petani karena mereka yang langsung merasakan dampaknya,” pungkas Iyus.
Kerja bakti tersebut sekaligus menunjukkan kepedulian warga terhadap keberlangsungan lahan pertanian di wilayah tersebut. Warga berharap kondisi saluran irigasi yang telah dibersihkan dapat terus terjaga sehingga pasokan air ke persawahan tidak kembali terganggu.












Tinggalkan Balasan