TANGERANG | Gmanews.id – Sebuah percakapan WhatsApp yang dikirim wali kelas XI SMK Wahana Harapan yang berlokasi di Desa Tegal Angus Kecamatan Teluknaga, kepada orang tua siswa terkait penagihan tunggakan SPP memunculkan tanda tanya. Pasalnya, dalam pesan tersebut terdapat kalimat yang mengaitkan pembayaran SPP dengan tindak lanjut pembangunan gedung lab, Adapun isi pesan whats app yang dipersoalkan berbunyi:
” Ibu, kalau untuk SPP Ve (inisial) aku diminta untuk tanya follow up pembangunan yg telah dijanjikan, kalau itu jadi, SPP tidak perlu dibayar.”
Isi pesan tersebut kemudian memicu pertanyaan dari wali murid berinisial Ir, yang mengaku bingung dengan maksud kalimat tersebut.
” Kalau sekadar menagih SPP sih tidak masalah. Tapi kenapa ada bahasa seperti itu, itu seperti mengintimidasi maksudnya apa?” ujar Ir kepada wartawan dengan nada kesal. Kamis 30-07-2026
Ir menegaskan dirinya tidak pernah menjanjikan akan merealisasikan pembangunan untuk ruangan lab itu, Dan apabila pembayaran SPP dikaitkan dengan realisasi pembangunan gedung untuk ruangan lab melalui bantuan donatur atau program Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan, hal itu berada di luar kewenangannya sebagai orang tua siswa.
Menurutnya, pihak keluarga juga tidak pernah mengajukan permohonan agar anaknya dibebaskan dari kewajiban membayar SPP apabila pembangunan gedung untuk lab tersebut terealisasi.
Lebih lanjut, Ir mengungkapkan bahwa pihak sekolah sebelumnya pernah meminta bantuannya untuk menjembatani pengajuan bantuan pembangunan ruang laboratorium kepada pihak donatur atau perusahaan
Selain itu, Ir mengaku pernah membantu pembangunan lapangan olahraga sekolah melalui aspirasi atau dana pagu dewan. Karena anggaran yang tersedia dinilai belum mencukupi, ia kemudian mencari tambahan bantuan dana dari pihak swasta hingga pembangunan lapangan tersebut dapat diselesaikan.
Sebagai bentuk apresiasi, kata Ir, oknum kepala sekolah dengan sebutan Miss saat itu pernah menyampaikan bahwa sekolah akan membebaskan biaya SPP anaknya hingga lulus. Menurut Ir hal tersebut disampaikan saat Miss bersama temannya bertemu dirinya disuatu tempat untuk menyerahkan bantuan dari pihak swasta.
” Namun kenyataannya berbeda. Ketika anak saya kembali mendapat tagihan SPP dan saya komplain, jawabannya hanya ‘lupa’. Itu yang membuat saya menilai penyampaiannya tidak konsisten,” ungkap Ir.
Dikonfirmasi terpisah, wali kelas XI SMK Wahana Harapan, L (Inisial ) menjelaskan bahwa dirinya hanya menjalankan tugas administratif dalam mencatat pembayaran SPP siswa.
Menurut L, sebelum menagih SPP siswa tersebut, dirinya terlebih dahulu meminta arahan kepada koordinator sekolah.
” Karena ini sudah akhir bulan Juli maka saya tanya kepada koordinator apakah saya tagih SPP Ve. Nah, koordinator saya memiliki perjanjian dengan Pak Ir dan keluarga. Saya hanya melanjutkan apa yang koordinator sampaikan kepada saya,” tulis L melalui pesan WhatsApp.
L juga mengaku tidak mengetahui secara rinci isi perjanjian yang dimaksud.
”Saya sesungguhnya tidak tahu perjanjian apa. Saya tidak ikut dalam pembicaraan itu, antara Ir maupun koordinator. Jadi hal ini terjadi karena saya meneruskan apa yang koordinator sampaikan kepada saya,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa dana SPP seluruh siswa disetorkan ke rekening yayasan, bukan kepada dirinya secara pribadi. Namun saat di minta penjelasan lagi terkait penagihan SPP yang di kaitkan dengan realisasi pembangunan gedung, Walikelas ini malah terkesan bahwa awak media melakukan penekanan dan memblokir kontak WhatsApp
” Koq jadi bapak ??? Giniin saya? Mama Ve yang saya WA aja gak gimana gimana Kenapa bapak gak terima sama chat saya dengan orangtua siswa
Bapak orang media, mau menekan saya?
Saya guru pak. Saya melakukan kewajiban saya mengajar dan mengingatkan SPP.
Mohon bapak pihak luar jangan menambah permasalahan. Mohon maaf saya block nomar wa, ” Tulisnya, seraya menutup percakapan
Hingga berita ini diterbitkan, pihak koordinator maupun Kepala SMK Wahana Harapan belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan adanya kesepakatan mengenai pembebasan biaya SPP maupun maksud kalimat dalam percakapan WhatsApp tersebut. Upaya konfirmasi masih terus dilakukan guna memenuhi prinsip keberimbangan dalam pemberitaan.












Tinggalkan Balasan