TANGERANG | Gmanews.id – Sebuah usaha pemotongan ayam filet yang berlokasi di Kampung Tengkolo RT 02/02, Desa Gaga, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang menuai keluhan warga sekitar.
Pasalnya, usaha pemotongan ayam yang disinyalir telah berdiri hampir satu tahun tersebut diduga menimbulkan limbah beraroma tak sedap. Warga mengaku kerap mencium bau amis yang menyengat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Berdasarkan pantauan di lokasi usaha pemotongan ayam yang berada di pinggir jalan utama Desa Gaga itu berdekatan dengan permukiman warga. Di samping bangunan gudang terlihat sebuah tempat penampungan limbah, Selasa 25-08-2026
Dari lokasi tersebut tampak air berwarna kemerahan mengalir dari dalam gudang menuju penampungan. Aroma amis tercium cukup kuat di sekitar area penampungan limbah yang berada dalam kondisi terbuka.
Salah seorang warga berinisial Y, yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan, mengaku hampir setiap hari mencium bau tak sedap yang berasal dari usaha pemotongan ayam tersebut.
”Baunya hampir setiap hari, kadang bikin pusing kepala. Bahkan baunya sampai masuk ke dalam pabrik tempat saya kerja,” ujar Y.
Menurutnya, aroma yang ditimbulkan cukup menyengat dan sangat mengganggu kenyamanan warga sekitar.
Hal senada disampaikan warga lainnya berinisial AN. Pria yang dikenal sebagai pengajar pengajian di lingkungan setempat itu mengaku sering mencium aroma tidak sedap saat sedang mengajar mengaji.
”Kalau bau sih pasti ada setiap hari, apalagi di musim kemarau seperti sekarang. Bahkan saat ada pengajian, baunya sampai masuk ke dalam ruangan,” katanya saat ditemui di kediamannya.
AN juga mengungkapkan bahwa usaha pemotongan ayam tersebut sebelumnya pernah mendapat protes dari warga terkait dugaan pembuangan limbah ke aliran kali.
”Pemotongan ayam itu sebenarnya dulu pernah didemo warga yang merasa terganggu karena limbahnya dibuang ke kali. Setelah itu pihak pemilik membuat tempat penampungan limbah ini,” ungkapnya.
Meski demikian, AN berharap ada solusi yang dapat dilakukan agar usaha tetap berjalan tanpa menimbulkan keresahan di lingkungan sekitar.
Menurutnya, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah dengan menutup area penampungan limbah agar bau tidak menyebar ke mana-mana.
”Kalau saya lihat tempat penampungan limbah hasil pemotongan itu terbuka. Mungkin kalau diberi penutup bisa mengurangi bau. Tapi limbahnya juga harus rutin dievakuasi atau dipindahkan,” jelasnya.
Sementara itu, pemilik usaha pemotongan ayam yang diketahui bernama Herman, membantah adanya keluhan warga sebagaimana yang disampaikan.
Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Herman justru mempertanyakan warga yang dimaksud.
”Ya pak ada apa? Warga yang mana pak?” tulis Herman dalam balasan pesan WhatsApp.
Ketika kembali dipastikan terkait adanya warga yang telah memberikan keterangan mengenai dugaan dampak bau tersebut, Herman kembali mempertanyakan identitas warga yang dimaksud.
”Ya pak warga sekitar yang mana? Soalnya dari kemarin gak ada yang komplain dari warga,” jawabnya.
Terpisah, Kepala Desa Gaga, M. Shodikin, hingga berita ini ditulis belum memberikan tanggapan terkait informasi keluhan warga atas dugaan dampak limbah usaha pemotongan ayam tersebut.
Warga berharap pihak terkait dapat turun melakukan pengecekan guna memastikan pengelolaan limbah usaha berjalan sesuai ketentuan, sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan maupun kesehatan masyarakat sekitar.












Tinggalkan Balasan