TANGERANG | Gmanews.id – Komitmen Lapas Kelas I Tangerang dalam mengembangkan pembinaan kemandirian berbasis inovasi dan keberlanjutan kembali mendapat pengakuan. Lembaga pemasyarakatan ini menerima kunjungan studi tiru dari Lapas Kelas IIB Indramayu terkait pengelolaan produksi batako ramah lingkungan berbahan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA), Rabu (18/2/2026).
Kunjungan tersebut menjadi penegasan posisi Lapas Kelas I Tangerang sebagai pusat inovasi pembinaan kerja produktif di lingkungan pemasyarakatan. Program batako FABA dinilai mampu mengintegrasikan aspek pembinaan karakter, peningkatan keterampilan kerja, serta kepedulian terhadap lingkungan hidup dalam satu ekosistem industri berkelanjutan.
Dalam agenda tersebut, rombongan studi tiru juga melibatkan perwakilan dari PLN Nusantara Power Unit PLTU Indramayu. Kolaborasi ini memperlihatkan sinergi nyata antara sektor energi dan pemasyarakatan dalam mendorong pemanfaatan limbah industri menjadi produk konstruksi bernilai ekonomis.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pemaparan teknis, dilanjutkan peninjauan langsung ke area produksi. Rombongan mendapatkan gambaran menyeluruh terkait alur pengolahan FABA, proses pencetakan batako, pengendalian mutu, hingga penerapan standar keselamatan dan kesehatan kerja yang melibatkan warga binaan sebagai pelaku utama.
Kepala Lapas Kelas I Tangerang, Beni Hidayat, menegaskan bahwa program batako FABA bukan sekadar aktivitas produksi, melainkan bagian dari strategi pembinaan yang berorientasi masa depan.
“Kami menempatkan warga binaan sebagai subjek pembelajaran yang aktif. Melalui program ini, mereka dibekali disiplin, tanggung jawab, dan etos kerja, sehingga memiliki kompetensi nyata saat kembali ke masyarakat,” ujar Beni Hidayat.
Senada dengan itu, Kepala Bidang Kegiatan Kerja Lapas Kelas I Tangerang, Aris Supriyadi, menyampaikan bahwa pemanfaatan FABA merupakan bentuk optimalisasi pembinaan berbasis manfaat dan keberlanjutan.
“Pemanfaatan FABA sejalan dengan kebutuhan industri dan prinsip ramah lingkungan. Kami terbuka memperluas kolaborasi agar program ini memberi dampak ekonomi dan sosial yang lebih luas,” jelas Aris Supriyadi.
Apresiasi juga disampaikan oleh Kepala Seksi Binadik dan Kegiatan Kerja Lapas Kelas IIB Indramayu, Rachmad Putra Susanto. Menurutnya, sistem pengelolaan batako FABA di Lapas Kelas I Tangerang layak dijadikan model nasional.
“Program ini terstruktur, terukur, dan berdampak langsung. Studi tiru ini menjadi referensi penting bagi kami untuk mengembangkan pembinaan yang lebih inovatif dan berkelanjutan di Indramayu,” ungkap Rachmad Putra Susanto.
Sementara itu, Asisten Manajer SDM, Umum, dan CSR PLN Nusantara Power Unit PLTU Indramayu, Puri Handoko, menilai inovasi tersebut sebagai contoh konkret penerapan ekonomi sirkular.
“Pemanfaatan FABA menjadi batako bernilai ekonomis menunjukkan bahwa limbah industri dapat dikelola secara produktif dan memberikan manfaat sosial. Kolaborasi seperti ini sangat potensial untuk terus dikembangkan,” kata Puri Handoko.
Melalui penguatan program batako FABA, Lapas Kelas I Tangerang terus membangun model pembinaan modern yang adaptif terhadap tantangan industri dan lingkungan. Program ini diharapkan mampu melahirkan sumber daya manusia yang terampil, mandiri, berdaya saing, serta siap berkontribusi positif bagi pembangunan masyarakat setelah masa pidana berakhir.











