Kenaikan harga BBM dipengaruhi gejolak geopolitik Timur Tengah, MOPS, dan fluktuasi rupiah terhadap dolar ASJAKARTA | Gmanews.id — Masyarakat diminta bersiap menghadapi potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mulai 1 April 2026. Kenaikan ini dipicu oleh melonjaknya harga minyak mentah dunia, terutama akibat memanasnya situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Kondisi global tersebut berdampak pada banyak negara, termasuk Indonesia. Pasalnya, harga BBM nonsubsidi di dalam negeri mengikuti mekanisme pasar internasional. Ketika harga minyak dunia naik, harga BBM di tingkat konsumen berpeluang ikut menyesuaikan.
Dilansir dari Wartakota.com, Ekonom Universitas Airlangga (Unair), Wisnu Wibowo, menegaskan bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi merupakan konsekuensi logis dari sistem tersebut.
“Kenaikan harga BBM nonsubsidi adalah konsekuensi logis karena mengikuti harga pasar internasional,” ujar Wisnu Wibowo.
Wisnu memperkirakan, penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada April 2026 berada di kisaran 5 hingga 10 persen. Meski masih dalam batas wajar, kenaikan ini tetap berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat.
Beberapa faktor utama yang mendorong kenaikan harga antara lain:
Dengan faktor-faktor tersebut, harga BBM nonsubsidi di Indonesia akan terus bergerak mengikuti dinamika global.
Sebagai perbandingan, berikut harga BBM nonsubsidi Pertamina per 1 Maret 2026 di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara:
Sementara BBM subsidi masih berlaku secara nasional:
SPBU swasta seperti Shell, BP, dan Vivo juga menetapkan harga yang tidak jauh berbeda, karena sama-sama mengikuti harga pasar global.
Harga tersebut dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan harga minyak dunia dan kondisi ekonomi global.
Kenaikan BBM nonsubsidi berpotensi berdampak pada berbagai sektor, mulai dari transportasi, logistik, hingga harga kebutuhan pokok.
Pemerintah diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara kebijakan energi dan daya beli masyarakat, serta menyiapkan langkah antisipatif agar dampaknya tidak meluas.
Tidak ada komentar